Asmara pertama,
Masihkah aku kau tempatkan di antara tutur rindumu,
Di peti pemutar lagu sayangmu?
Aku tak pernah bisa menutup akhir dari secarik kisah percintaan dungu;
dua ekor bocah monyet yang gemar bertukar sebiji pisang
ketidakberartian itu dijadikan mereka janur cinta
mungkin itu yang mereka maksud sebagai cinta monyet
Kau tersenyum saja, sambil menendang pelan kakiku
Diam adalah kebisaan kita berdua, katanya dalam diam itu ada emas
Maka kau selalu diam, mengharapkan emas itu muncul di depan mata kita
Untuk kau belikan sejuta sisir pisang agar kita tidak lapar lagi
Aku memutar bola mataku, manarik senyum miris
Andai kepolosan dan kebodohan saja cukup untuk menumbuhkan cinta, aku rela menjadi monyet sungguhan
Pura-pura dungu asal bisa kenyang makan pisang tiap hari
Lagi kau tersenyum,
Mengelus pipiku yang telah menjadi dingin diterpa angin malam
Dan kau membisik pada daun telingaku:
Monyetkah, manusiakah kau, aku masih sampai hati mencintaimu
Di balik pusis,
Aku jadi agak jarang memposting di sini, malah ketagihan posting di facebook entah kenapa. Ini sajak yang kutulis beberapa waktu lalu. Sebenarnya aku mau menulis sesuatu yang romantis, mengingat cinta pertamaku dulu. Tapi tulisan ini jadi berkembang seperti ini, melenceng dari apa yang ingin kusampaikan. Ini bukan tentang cinta pertamaku lagi, walau kalimat pembukanya ya. Kisah di balik sajak ini adalah hubungan sepasang kekasih, di mana salah satu dari mereka adalah pribadi yang realistis, yang tak punya romansa sedikit pun, memandang cinta sebagai pemuas kehidupan yang harus dijalani serius dan kaku. Sedang yang satunya adalah pribadi yang terkesan lemah, namun dia humoris, menanggapi segala keluhan kekasihnya dengan tenang pada akhir bait. Kalau ditanyakan lebih mengarah kemana, aku ini ada di tengah2, kadang realistis namun sebagai perempuan tentunya aku mendambakan romantisme.