Sayap Kertas

Mari berekspresi melalui puisi, mari menikmati puisi

Jika Langit Malam adalah Neraka

Senja dalam hitungan detik terurai oleh denyut dusta

Mencumbu duka dalam air mata

Remang rembulan tak mampu lelapkan gelisah

Gemericik tangis meenggurat raut tanpa asa

 

Di langit entah sebelah mana, terdengar;

kaki-kaki diseret belenggu dosa abadi

Manusia berteriak, ketika bulan menjadi lampu sorot; sebuah kemunafikan

dan gemintang yang mereka sebut mimpi: membakar lidah dusta mereka

Awanpun membara memerah, menghanguskan telapak durhaka; ketika mereka menukar Tuhan dengan dunia

 

Inikah akhir manusia?

 

22/12/2010

 

Di balik puisi,

Sewaktu menulis ini, perasaanku lagi gelisah sekali. Ketika gelisah itu paling enak merefleksi tentang makna kehidupan. Sajak ini bercerita tentang manusia yang jatuh ke dalam dosa lalu mendapatkan ganjarannya. Orang sering kali berpikir bahwa neraka itu di “bawah” sana, sedang surga berada di atas. Langit pun dijadikan latar surga itu sendiri, apa benar demikian? Dalam sajakku kali ini aku ingin memberi opini bahwa neraka itu bisa berada di mana saja, entah itu di bawah ataupun di atas langit sekalipun. Tapi yang namanya neraka tetap saja neraka, mau itu di atas langit malam yang indah, semuanya tak jadi lagi bermakna positif. Gemintang yang membakar lidah dusta, juga awan membara yang membakar telapak dusta…itu adalah salah satu gambaran dari imajinasiku sendiri.

 

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.