Kau menghilang, berhembus bersama angin senja
Bibir oranyemu terkubur dalam air mataku
Wujudmu…oh wujudmu, mungkinkah ditelan oleh rindu?
Sehingga aku lebih memaknai rindu itu sendiri namun tidak dirimu
Nuraniku seperti kehilangan hitam putih, katakan padaku warna apa yang ada padamu?
Mimpiku hanya untuk menyamai langkahmu…berjalan di sampingmu dan menyanyikan lagu yang telah dimatikan waktu
Namamu…oh namamu…bahkan tak bisa kusebut
Siapakah namamu?
Di balik puisi,
Pesona Rindu yang telah mebutakanku, itu judul panjangnya. Selamat tahun baru sebelumnya
Di tahun baru ini kuawali dengan sebuah sajak pelipur rindu yang singkat ini. Aku capek merindu, sejujurnya, namun kehidupan manusia takkan pernah lepas dari kata itu. Aku baru nyadari pada dasarnya kita manusia hidup dengan hidup kita sendiri, biarpun mungkin sekarang kita memiliki kekasih, teman ataupun saudara, ada waktunya kita akn dipisahkan oleh ruang dan waktu. Seperti aku ini, yang sudah dua kali berpindah tempat. Kali ini sajakku agak mentah, sebenarnya aku tak punya ide untuk menulis apa. Sudah seminggu ini otakku sama sekali ngga bisa konek dengan dunia puisi. Bagi yang biasa membaca sajakku, mungkin saja ini identik dengan sajak2 sebelumnya. Pengulangan kata, tak ada yang betul-betul fresh. Kembali ke tema, soal rindu..ini adalah rindu yang tak pernah terucap namun selalu terasa di hati, untuk seseorang yang spesial, yang kandang suka membuatku banjir air mata ketika merindukannya.