Debu menggeliat di bawah rintikan hangatmu
Kemolekan berwarna emas memancar dari kedua mata
Luka menggantung indah padamu, kemudian turun ke pasir membentuk warna pelangi
Di atas sana kau memeluk sepi sambil menghitung akhir senja
Jingga itu ialah melankolisme sejagad yang kau persembahkan di ujung cakrawala
Ketika rembulan mulai mencuri hatiku, kau hanya bisa menawarkan kembali asmara
Hening suaraku ialah penantian setiamu di setiap ufuk pagi
Esoknya setelah kau mendengar bahwa hatiku telah dipinang rembulan
Kau menangis…mengukir kembali melankoli pelangi
Di balik puisi,
Baru kali ini aku dilema dalam memberi judul tulisanku, heheh. Jadinya kubuat dua judul. Lagi sebuah pujian kudapat dari kak Micka yang selalu melabeli karyaku dengan kata “surealis”. Ahaha jadi makin akrab saja dengan kata itu. Bisa kuakui memang aku ini suka sekali dibuai oleh dongeng-dongeng, sesuatu yang di luar dari kenyataan (kadang). Pemikiran ini entah dapat disebut sebagai imajinatif atau ngeyel, aku pun tak tahu. Namun sewaktu menulis sajak seperti ini, pikiranku pun berlari, memutar sajak itu dalam benakku. Seperti kali ini aku bayangkan mentari sebagai kekasihku. Namun tentunya tak bisa diartkan secara literal. Sebenarnya lebih tepat jika dikatakan kekasihku yang serupa dengan matahari. Dan Hujan Matahari ialah kiasa dari melankolisme cinta tak kesampaian antara aku dan dia. hahah..bener2 sudah ngeyel…