Sebuah raga terjerat dalam kesunyian
Mengebumikan rahasia setengah rembulan
Hawa malam menerobos sekat kalbu
Bagai bisik kepasrahan yang menggenggam jemari
Persimpangan berlampu remang:
Kumpulan mimpi dan realita yang saling mengait
Lagu penimang jiwa membuahkan asphyxia
Menuntun kaki yang tersesat dalam belantara
Mencicipi sejenak pengobat hakikat hidup
Mendayung jauh dari nafas dunia
Mengawini Phantasmagoria
(Note)
Phantasmagoria: serentetan khayalan mimpi
Asphyxia : aksfesia, ketidaksadaran
(13/11/2010)
Di balik puisi,
Sajak ini diilhami oleh karya sahabat setiaku Florence aka Rafael Yanuar. Jika dibandingkan dengan punyanya, punyaku amat berbeda. Sungguh aku mengagumi karyanya (p.s Flo jika kau membacanya minta link blogmu sebagai referensi). Kata Phantasmagoria begitu surealis, penuh dengan imajinasi, aku seperti terseret dalam kata itu. Hingga aku punya pengertian sendiri untuk Phantasmagoria. Mimpi dan khayalan sebenarnya bisa dikatakan dua hal yang berbeda, bagiku mimpi itu tidak bisa kita kontrol namun berbeda dengan khayalan, jiwa kita mempunyai kontrol terhadapnya. Mungkin khayalan bisa disamakan dengan fantasi. Tak bisa dipungkiri fakta bahwa setiap manusia pasti memiliki khayalannya sendiri yang pada dasarnya sebagai pelarian untuk pemenuhan kesenangan diri sendiri. Entah itu menciptakan sebuah scene atau potongan potongan mimpi yang tidak atau belum terwujud dalam kehidupan nyata. Dalam sajakku aku tak mau menilai Phantasmagoria sebagai “hitam” atau “putih”, aku berusaha menempatkannya sebagai bagian dari kehidupan manusia yang tak dapat terlepas dari hidup itu sendiri.
Dulu aku pernah baca artikel di koran, yang mengatakan bahwa manusia bisa mengatur dan sadar dalam mimpinya. Hal itu bisa terjadi karena ada fenomena “Lucid Dream”. Nah, awalnya aku ingin memakai judul Lucid Dream pada tulisan “Phantasmagoria”-ku. Tapi kemudian, aku mendapati istilah yang lebih mewakli:
http://rafaelyanuar.blogspot.com/2010/06/phantasmagoria.html
Karya yang indah, Kosmos. Aku harus merenungi phantasmagori kosmik ini (meminjam istilah Paman Micka)agar bisa mencari makna yang sempat / mungkin terlewat =).